Kegiatan Remedial dan Penggayaan
TUGAS
X STRATEGI PEMBELAJARAN
Tentang
“Kegiatan
Remedial dan Penggayaan”
Disusun
Oleh:
Pesri
Delita
(1820120)
Kelas:
4.4 PGSD
Dosen
Pembimbing
Yessi
Rifmasari, M. Pd
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) ADZKIA
PADANG
2020
A. Remedial
1. Pengertian Remedial
Istilah remedial berasal dar
bahasa inggris yaitu Remediation. Kata Remediation berakar dai kata “to remedy”, yang bermakna
“menyembuhkan”. Jadi remidiasi ditekankan pada proses “penyembuhan”. Sementara
itu kata remedial merupakan kata sifat, sehingga dalam bahasa inggris selalu
dibandingkan dengan kata benda, minsalnya “remedial work”, yang berarti
pekerjaan penyembuhan. Dalam bahasa indonesia yang baik dan benar, kata
remedial tidak berdiri sendiri tetapi disandingkan dengan kata kegiatan atau
pembelajaran, sehingga istilah yang digunakan adalah kegiatan remedial atau
pembelajaran remedial.
Pembelajaran remedial adalah
kegiatan yang ditunjukkan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam
menguasai materi pembelajaran. Pembelajaran remedial merupakan layanan
pendidikan yang diberikan kepada sisiwa untuk memperbaiki prestasi belajarnya
sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Pembelajaran remedial
adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai
ketuntasan KD tertentu, menggunakan berbagai metode yang diakhiri oleh
penilaian untuk mengukur kembali tinggat ketuntasan peserta didik.
Pada hakikatnya semua peserta
didik akan dapat mencapai standar konpetensi yang ditentukan, hanya waktu
pencapaiannya yang berbeda. Oleh karenanya perlu adanya program pembelajaran
remedial (perbaikan). Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan
sifat,jenis, latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan
tujuan pembelajarannya pun dirumuskan sesui dengan kesulitan yang dialami
peserta didik.
Pada pembelajaran remedial,
media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat mempermudah peserta
didik dalam memahami pelajaran yang dirasa sulit. Alat evaluasi yang digunakan
dalam pembelajaran remedial pun perlu disesuaikan dengan kesulitan belajar yang
dialami peserta didik.
2. Hakikat Pembelajaran Remedial
Pembelajaran remedial merupakan
layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki
prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan.
Untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih
dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang
diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas
No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem
belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual
peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas
standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta
didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur menggunakan sistem
penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu
maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
Pelaksanaan pembelajaran
berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan
awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari.
Kemudian dilaksanakan pembelajaran menggunakan berbagai metode seperti ceramah,
demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb.
Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media
audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio,
slide, video, komputer, multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran
atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian
proses menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui
kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap
kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Pada akhir program pembelajaran,
diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian
dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar peserta didik, apakah
seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu
yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.
Apabila dijumpai adanya peserta
didik yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka
muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu
tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran remedial atau perbaikan.
Dengan kata lain, remedial diperlukan bagi peserta didik yang belum mencapai
kemampuan minimal yang ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.
Pemberian program pembelajaran remedial didasarkan atas latar belakang bahwa
pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik.
Dengan diberikannya pembelajaran
remedial bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar,
maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama daripada mereka yang telah
mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali
setelah mendapatkan program pembelajaran remedial.
3. Pentingnya Pembelajaran Remedial
Setiap guru berharap peserta
didiknya dapat mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan.
Berdasarkan permendikbud No.65 tentang Standar Proses,No.66 thn 2013 tentang
standar penilaian, setiap pendidik hendaknya memperhatikan prinsip perbedaan
individu (kemampuan awal, kecerdasan, kepribadian, bakat, potensi, minat,
motivasi belajar, gaya belajar), maka program pembelajaran remedial dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. Dalam program pembelajaran remedial guru
akan membantu peserta didik, untuk memahami kesulitan belajar yang dihadapinya,
mengatasi kesulitannya tersebut dengan memperbaiki cara belajar dan sikap
belajar yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.
4. Tujuan Pembelajaran Remedial
Tujuan guru melaksanakan
kegiatan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan menguasai
kompetensi yang telah ditentukan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Secara umum tujuan kegiatan remedial adalah sama dengan pembelajaran pada
umumnya yakni memperbaiki miskonsepsi siswa sehingga siswa dapat mencapai
kompetensi yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Secara
khusus kegiatan remedial bertujuan membantu siswa yang belum tuntas menguasai
kompetensi yang ditetapkan melalui kegiatan pembelajaran tambahan. Melalui
kegiatan remedial, siswa dibantu untuk mengatasi kesulitan belajar yang
dihadapinya.
5. Fungsi Pembelajaran Remedial
Dalam kaitannya dengan proses
pembelajaran, fungsi kegiatan remedial adalah sebagai berikut:
a. Memperbaiki cara belajar siswa dan cara
mengajar guru (Fungsi Korektif)
Fungsi korektif ini dilaksanakan guru
berdasarkan hasil kesulitan belajar siswa yang diketemukan. Bertolak dari hasil
analisis tersebut, guru memperbaiki berbagai aspek kesulitan proses
pembelajaran, mulai dari rumusan indikator hasil belajar, materi ajar,
pengalaman belajar, penilaian dan evaluasi, serta tindak lanjut pembelajaran.
Rumusan kompetensi dan indikator hasil belajar untuk remedial dibuat
berdasarkan kesulitan belajar yang dialami siswa. Selanjutnya guru
mengorganisasi dan mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengantaraf
kemampuan siswa, memilih dan menerapkan alat dan berbagai media serta sumber
belajar untuk memudahkan siswa belajar, memilih dan menetapkan pengalaman
belajar yang sesuai.
b. Meningkatkan pemahaman guru dan siswa
terhadap kelebihan dan kekurangan dirinya (Fungsi Pemahaman)
Kegiatan remedial memberikan pemahaman
lebih baik kepada siswa maupun guru. Bagi seorang guru yang akan melaksanakan
kegiatan remedial terlebih dulu harus memahami kelebihan dan kelemahan kegiatan
pembelajaran yang dilakukannya. Untuk kepentingan itu maka guru terlebih dulu
mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakannya. Dari evaluasi
tersebut akan diketahui apakah strategi dan metode pembalajarannya sudah tepat,
apakah pengalaman belajar yang dipilih sudah sudah sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa, apakah media dan alat yang digunakan sudah membantu
mempermudah pemahaman siswa. Dari hasil evaluasi inilah guru memperbaiki proses
pembelajarannya.
Pemahaman yang diharapkan terbentuk
pada diri siswa dari kegiatan remedial adalah siswa memahami kelebihan dan
kelemahan cara belajarnya. Apakah selama pembelajaran siswa sudah berperan
aktif apa belum, Apakah sudah mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh apa
belum, Nah dari pemahaman akan kelemahan dan kelebihan dirinya ini siswa akan
dengan kesadaran sendiri memperbaiki sikap dan cara belajarnya sehingga dapat
mencapai hasil belajar yang lebih baik.
c. Menyesuaikan Pembelajaran dengan
Karakteristik Siswa (Fungsi Penyesuaian)
Fungsi penyesuaian dalam kegiatan
remedial adalah penyesuaian guru terhadap karakteritik siswa. Untuk menentukan
hasil belajar siswa dan materi pembelajaran disesuaikan dengan kesulitan yang
dihadapi siswa. Kegiatan pembelajaran guru harus menerapkan kekuatan yang
dimiliki individu siswa melalui penggunaan berbagai metode dan alat/media
pembelajaran.
d. Mempercepat Penguasaan Siswa terhadap
Materi Pelajaran (Fungsi Akselerasi)
Kegiatan
remedial mempunyai fungsi akselerasi terhadap pembelajaran karena siswa dapat
dipercepat penguasaan terhadap materi pelajaran melalui penambahan waktu dan
frekuensi pembelajaran. Tanpa penambahan frekuensi pembelajaran maka siswa akan
semakin tertinggal jauh dari teman-temannya yang telah menguasai materi
pelajaran.
e. Memperkaya Pemahaman Siswa tentang
Materi Pembelajaran (Fungsi Pengayaan)
Fungsi
pengayaan menurut Mulyadi dimaksudkan agar pembelajaran remedial dapat
memperkaya proses belajar mengajar. Bahan pelajaran yang tidak dismpaikan dalam
pelajaran reguler dapat diperoleh melalui pembelajaran remedial. Pengayaan lain
adalah dalam segimetode dan alat yang dipergunakan dalam pembelajaran remedial.
Pendapat
Mulyadi diatas sependapat dengan pendapat Abu Alumardi dan Widodo Supriyono
bahwa maksud pembelajaran remedial itu dapat memperkaya proses belajar
mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam pengajaran perbaikan,
sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat
prestasi belajarnya lebih kaya.
f. Membantu Mengatasi Kesulitan Siswa dalam
Aspek Sosial-Pribadi (Fungsi Terapeutik).
Fungsi
teurapeutik ditunjukkan dengan kegiatan membatu siswa yang mengalami kesulitan
dalam aspek sosial dan pribadi. Perlu diketahui bahwa siswa yang merasa kurang
berhasil dalam belajar sering merasa rendah diri atau terisolasi dalam
pergaulan dari teman-temannya. Guru yang membantu siswa mencapai prestasi
belajar yang lebih baik melalui kegiatan remedial berarti guru telah membantu
siswa meningkatkan rasa percaya dirinya. Tumbuhnya rasa percaya diri ini
membuat siswa menjadi tidak merasa rendah diri lagi dan dapat bergaul dengan
teman-temannya.
6. Prinsip Pembelajaran Remedial
Pembelajaran
remedial merupakan pemberian perlakuan khusus terhadap siswa yang mengalami
hambatan dalam kegiatan belajarnya. Hambatan yang terjadi dapat berupa
kurangnya pengetahuan dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam mecapai
kompetensi. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran
remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus adalah sebagai
berikut:
a. Adaptif
Setiap
siswa memiliki keunikan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, program pembelajaran
remedial hendaknya memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan,
kesempatan, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran
remedial harus mengakomodasi perbedaan individual siswa.
b. Interaktif
Pembelajaran
remedial hendaknya memungkinkan siswa untuk secara intensif berinteraksi dengan
guru dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan
bahwa kegiatan belajar siswa yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan
monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai ada
siswa yang mengalami kesulitan maka guru harus segera memberikan bantuan.
c. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan
Penilaian
Sejalan
dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar siswa yang berbeda-beda, maka dalam
pembelajaran remedial perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode
penilaian yang sesuai dengan karakteristik siswa.
d. Pemberian Umpan Balik
Umpan
balik berupa informasi yang diberikan kepada siswa mengenai kemajuan belajarnya
perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun
konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari
kekeliruan belajar yang berlarut-larut yang dialami siswa.
e. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam
Pemberian Pelayanan
Program
pembelajaran reguler dengan pembelajaran remedial merupakan satu kesatuan,
dengan demikian program pembelajaran reguler dengan remedial harus
berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat siswa dapat
mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.
7. Bentuk
Kegiatan Remedial
Kegiatan remedial dilaksanakan
guru untuk membantu siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal yang harus
dicapai siswa. Dengan memperhatikan pengertian dan prinsip pembelajaran
remedial, menurut Majid (2008:237) pembelajaran remedial dapat dilakukan dengan
berbagai bentuk kegiatan antara lain:
a. Memberikan tambahan penjelasan atau contoh
Siswa kadang-kadang mengalami
kesulitan memahami penyampaian materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi
yang disajikan hanya sekali, apalagi kurang ilustrasi dan contoh. Pemberian
tambahan ilustrasi, contoh dan bukan contoh untuk pembelajaran konsep misalnya
akan membantu pembentukan konsep pada diri siswa. Menggunakan strategi
pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya
Penggunaan alternatif berbagai
strategi pembelajaran akan memungkinkan siswa dapat mengatasi masalah
pembelajaran yang dihadapi.
b. Mengkaji ulang pembelajaran yang lalu.
Penerapan
prinsip pengulangan dalam pembelajaran akan membantu siswa menangkap pesan
pembelajaran. Pengulangan dapat dilakukan dengan menggunakan metode dan media
yang sama atau metode dan media yang berbeda. Guru melakukan pembelajaran
kembali kompetensi yang belum dikuasai oleh siswa. Pembelajaran hanya
difokuskan pada kesulitan yang dialami oleh siswa. Jika siswa kurang dalam hal
mengaplikasi konsep maka hendaknya guru banyak memberi contoh latihan penerapan
konsep dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan
cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan
tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua
peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan
belajar. Guru perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode
dan/atau media yang lebih tepat.
c. Menggunakan berbagai jenis media
Penggunaan
berbagai jenis media dapat menarik perhatian siswa. Perhatian memegang peranan
penting dalam proses pembelajaran. Semakin memperhatikan, hasil belajar akan
lebih baik. Namun siswa seringkali mengalami kesulitan untuk memperhatikan atau
berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Agar perhatian siswa terkonsentrasi pada
materi pelajaran perlu digunakan berbagai media untuk mengendalikan perhatian
siswa.
d. Melakukan Aktivitas Fisik (misal
demonstrasi, atau praktik)
Melakukan
aktivitas fisik dalam kegiatan remedial, misal untuk memahami konsep IPA bahwa
gaya dapat mengubah bentuk benda, dan besar kecilnya gaya mempengaruhi besar
kecilnya perubahan bentuk benda. Terkait dengan hal itu sebaiknya guru memberi
kesempatan yang lebih banyak dan dengan benda yang bervariasi pada siswa agar
siswa dapat memperoleh pengalaman yang lebih kaya untuk membangun konsep
tersebut. Dengan cara ini diharapkan siswa akan lebih mudah memahami konsep
tersebut karena didukung oleh data yang cukup.
e. Kegiatan Kelompok
Kerja
kelompok dan diskusi dapat digunakan guru untuk membantu siswa yang mengalami
kesulitan belajar. Yang harus diperhatikan guru dalam menentukan kelompok agar
kerja kelompok itu efektif adalah diantara anggota kelompok itu harus
benar-benar ada siswa yang menguasai materi tersebut sehingga mampu memberi
penjelasan kepada siswa lainnya.
f. Tutor Sebaya
Tutor
sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu
dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami
kelambatan belajar.. Salah seorang siswa yang lebih pandai dari kelas yang sama
atau dari kelas yang lebih tinggi inilah yang dijadikan tutornya. Dengan teman
sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih
terbuka dan akrab.
g. Menggunakan Sumber Belajar Lain
Siswa
yang mengalami kesulitan belajar dapat dibantu dengan teknik memberikan
kesempatan untuk mengunjungi ahli atau praktisi yang berkaitan dengan materi
yang dibahas. Para ahli atau praktisi ini merupakan sumber belajar. Misal untuk
mengatasi kesulitan belajar tentang bagaimana berternak ayam petelur/pedaging,
siswa tersebut bisa mengunjungi salah seorang peternak ayam terdekat untuk
diminta bantuannya memberikan penjelasan yang lebih gamblang.
8. Strategi dan Teknik Remedial
Untuk
menentukan strategi dan teknik pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran
remedial, terlebih dahulu harus diperhatikan tentang faktor-faktor yang
terdapat dalam pembelajaran remedial itu sendiri. Faktor-faktor itu antara lain
yang pokok menurut Nana Sukmadinata dan Thomas :
a. Sifat perbaikan itu sendiri
b. Jumlah siswayang memerlukan kegiatan
perbaikan
c. Tempat bantuan yang berupa kegiatan
perbaikan itu diberikan
d. Waktu penyelenggarakan kegiatan perbaikan
e. Siapa yang menyelenggarakan kegiatan
perbaikan
f. Metode yang dipakai dalam memberikan
perbaikan
g. Sarana atau alat yang sesuai bagi
kegiatan perbaikan itu
h. Tingkat kesulitan siswa
Berdasarkan
faktor yang terdapat dalam kegiatan remedial diatas, maka dapat dipilih dan
ditentukan strategi dan teknik pembelajaran remedial. Strategi dan teknik
pembelajaran remedial tersebut seperti di rumuskan Izhar Hasis yang di
simpulkan dari Ross dan Santley dari Dinkmayer and Caidweel dalam bukunya
Development Counseling, adalah:
a. Strategi dan Teknik Pendekatan bersifat
Kuratif
Pendekatan
pengajaran remedial dikatakan bersifat kuratif kalau dilakukan setelah
selesainya proses belajar mengajar utama diselenggarakan. Diadakannyan kegiatan
ini didasarkan atas kenyataan empirik bahwa seseorang atau sejumlah orang atau
mungkin sebagian besar atau seluruh anggota kelas atau kelompok belajara dapat
dipandang tidak mampu menyelesaikan proses belajar mengajar yang bersangkutan
secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasialan yang ditetapkan.
Teknik pendekatan yang dipakai dalam
hal ini adalah: pengulangan (repatation), pengayaan (enrichment) dan pengukuhan
(reinforcement), serta percepatan (acceleration). Untuk lebih jelasnya akan
dijabarkan sebagai berikut:
1) Pengulangan (repatation)
Pelaksanaannya
dapat dilakukan pada tiap akhir jam pelajaran, tiap akhir unit (satuan)
pelajaran tertentu, maupun setiap akhir pokok pembahasan. Sasaran dapat
diberikan kepada perorangan (individual maupun kelompok), tergantung kepada
kebutuhan. Sedangkan waktu penyampaiannya dapat diberikan sesudah pelajaran
selesai maupun diluar jam pelajaran. Misalnya pada sore hari. Sering kita lihat
ada guru yang memberikan pelajaran tambahan/ulangan pada waktu sore hari pada
murid tertentu. Cara lain yang dapat diberikan melalui “kelas remedial” yaitu
khusus bagi siswa yang memerlukan bantuan tersendiri lantaran rendah prestasi.
Siswa lainnya melakukan belajar seperti biasa.
2) Pengayaan (enrichment) dan Pengukuhan (reinforcement)
Kalau
layanan pengulangan ditujukan pada siswa yang mempunyai kelemahan sangat
mendasar, maka layanan pengayaan dan pengukuhan ditujukan pada siswa yang
mempunyai kelemahan ringan. Teknik pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas
atau soal pekerjaan rumah.
3) Percepatan (acceleration)
Percepatan
diberikan kepada kasus berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikososial atau
ego emosional. Ada dua kemungkinan pelaksanaan, yaitu:
a) Promosi penuh status akademiknya ke
tingkat yang lebih tinggi sebatas kemungkinan, kalau memang yang bersangkutan
menunjukkan keunggulan yang menyeluruh.
b) Maju berkelanjutan jika kasus menonjol
pada beberapa bidang tertentu. Pada siswa kasus dapat diberikan layanan dengan
bahan pelajaran yang lebih tinggi sebatas kemampuannya.
Bila
ketiga alternatif teknik pendekatan ini memungkinkan untuk diadministrasikan
secara efektif, maka kesulitan yang dialami siswa baik dalam arti bagi
peningkatan prestasi akademinya maupun kemampuan penyesuaian mungkin
berangsur-angsur dapat dikurangi.
b. Strategi dan teknik pendekatan bersifat
preventif
Pada
pendekatan kuratif ditunjukkan pada siswa yang secara nyata telah mempunyai
kesulitan tertentu, sedangkan pada pendekatan preventif ditujukan kepada siswa
yang diperkirakan mempunyai kesulitan berdasarkan informasi yang diperoleh.
Sehingga langkah ini merupakan antisipasi atau pencegahan agar apa yang mungkin
terjadi dapat di cegah. Sehingga pendekatan tersebut adalah mereka yang
diperkirakan dapat menyelesaikan program belajar lebih cepat dari waktu yang
direncanakan, atau, mereka yang diperkirakan akan lebih lambat dari waktu yang
telah diprogramkan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara kelompok maupun secara
individual tergantung pada siswanya.
Teknik
pendekatan yang dipakai adalah layanan pengajaran kelompok yang diorganisasikan
secara homogen (homogenius grouping) yang diorganisasikan secara individual
(individualize based instruction) dan layanan pengajaran kelompok dengan
dilengkapi kelas khusus remedial dan pengayaan.
c. Strategi dan teknik pendekatanbersifat
pengembangan (developmental)
Seperti
yang dikemukakan oleh Dinkmeyer dan Caldwell ada satu pendekatan lainnya yaitu
pengembangan (developmental). Kalau pendekatan kuratif merupakan tindak lanjut
dari post teaching diagnostic, pendekatan preventif merupakan tindak lanjut
dari pre teaching diagnostic maka pendekatan pengembangan perupakan tindak
lanjut dari during teaching diagnostic atau upaya diagnostik yang dilakukan
guru selama berlangsungnya proses belajar mengajar (PBM).
Agar
strategi pendekatan ini dapat dioperasikan secara teknis yang sistematis, maka
diperlukan adanya pengorganisasian proses belajar mengajar yang sistematis
seperti dalam bentuk pengajaran berprogram, sistem pengajaran modul dan
lainnya.
9. Metode Pengajaran Remedial
Dalam
memberikan pengaran remedi dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:
a. Metode pemberian tugas
Dalam
pemberian tugas dapat diberikan kepada kelompok ataupun individual. Tugas yang
diberikan sesuai dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan yang
dihadapi. Metode ini dapat pula diberikan untuk mengetahui kasus yang sedang
dicari. Keuntungan dari metode ini adalah:
1) Siswa dapat memahami dirinya, baik
kelebihan maupun kekurangannya
2) Untuk memperdalam atau memperluas materi
pelajaran
3) Memperbaiki cara-cara belajar yang kurang
efesien
4) Mempercepat kemajuan belajarnya baik pada
kelompok maupun individual.
b. Metode diskusi
Dengan
diskusi akan terjadi interaksi anatar individu untuk memecahkan masalah,
sehingga setiap individuakan dapat memberikan buah pikirannya untuk memecahkan
masalah yang dilontarkan oleh guru. Dalam pengajaran remedi metpde diskusi
dapat dipergunakan untuk memecahkan kesulitan yang sama dalam suatu kelompok,
untuk mencri pemecahannya.
10. Langkah-langkah Kegiatan Remedial
Kegiatan
remedial dapat dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran biasa untuk membantu
siswa yang diduga akan mengalami kesulitan (preventif); setelah kegiatan
pembelajaran biasa untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar
(kuratif); atau selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran biasa
(pengembangan). Dalam melaksanakan kegiatan remedial guru dapat menerapkan berbagai
metode dan media sesuai dengan kesulitan yang dihadapi dan tingkat kemampuan
siswa serta menekankan pada segi kekuatan yang dimiliki siswa.
Langkah-langkah
yang harus ditempuh dalam kegiatan remedial adalah analisis hasil diagnosis
kesulitan belajar, menemukan penyebab kesulitan, menyusun rencana kegiatan
remedial, melaksanakan kegiatan remedial, dan menilai kegiatan remedial.
Pelaksanaan remediasi sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Analisis Hasil Diagnosis
Diagnosis
kesulitan belajar adalah proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga
mengalami kesulitan dalam belajar. Dari kegiatan tersebut guru akan mengetahui
para siswa yang perlu mendapatkan layanan remediasi.
1) Tujuan
Diagnosis
kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar
peserta didik. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan
ringan,,sedang, dan berat.
a) Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai
pada peserta didik yang kurang perhatian di saat mengikuti pembelajaran.
b) Kesulitan belajar sedang dijumpai pada
peserta didik yang mengalami gangguan belajar yang berasal dari luar diri
peserta didi, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan,
dsb.
c) Kesulitan belajar berat dijumpai pada
pesrta didik yang mengalami ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu,
tuna netra, tuna daksa, dsb.
2) Teknik
Teknik
yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik
dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara,
pengamatan, dsb.
a) Tes prasyarat adalah tes yang digunakan
untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan
kompetensi tertentu terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat
pengetahuan dan prasyarat keterampilan.
b) Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui
kesulitan peserta didik dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam
mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada
kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.
c) Wanwancara dilakukan dengan mengadakan
interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai
program pengayaan yang diminati peserta didik.
d) Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan
dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari
pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan
yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.
Terkait
dengan kepentingan remedisi ini maka yang menjadi fokus perhatian adalah
tingkat ketercapaian kriteria keberhasilan yang dicapai oleh siswa yang
mengalami kesulitan belajar. Jika kriteria tingkat ketercapaiannya 80%, maka
siswa yang belum mencapai kriteria tersebut perlu mendapatkan pembelajaran
remedial. Informasi selanjutnya yang perlu diketahui guru adalah materi apa
yang siswa merasakan kesulitan secara individual.
b. Menemukan Penyebab Kesulitan
Penyebab
kesulitan belajar siswa harus diidentifikasi lebih dulu sebelum guru merancang
remediasi, karena gejala yang sama sangat dimungkinkan bagi siswa yang berbeda
jenis penyebab kesulitannya berbeda pula.
c. Menyusun Rencana Kegiatan Remedial
Rencana
kegiatan remedial dapat disusun setelah guru mengetahui (i) siswa-siswa yang
perlu diremediasi, (ii) penyebab kesulitan belajar, (iii) topik-topik yang
belum dikuasai. Selanjutnya guru menyusun rencana pembelajaran seperti
pembelajaran pada umumya. Perencanaan tersebut meliputi hal-hal:
1) merumuskan indikator hasil belajar;
2) menentukan materi yang sesuai dengan
indikator hasil belajar;
3) memilih strategi dan metode yang sesuai
dengan karakteristik siswa;
4) merencanakan waktu yang diperlukan;
5) menentkan jenis, prosedur, dan alat
penilaian.
d. Melakukan Kegiatan Remedial
Melaksanakan
kegiatan remedial sesuai rencana yang telah disusun. Sebaiknya remediasi
dilaksanakan sesegera mungkin. Semakin cepat dilaksanakan semakin baik, karena
siswa selain cepat terbantu mengatasi kesulitan belajarnya, sehingga semakin
besar kemungkinan siswa berhasil dalam belajarnya.
e. Menilai Kegiatan Remedial
Untuk
mengetahui berhasil atau tidaknya remediasi yang telah dilakukan perlu
dilakukan penilaian. Jika penilaian menunjukkan kemajuan belajar siswa sesuai
dengan yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan
cukup efektif membantu siswa mengatasi kesulitan belajarnya. Namun jika belum
menunjukkan hasil seperti yang diharapkan berarti kegiatan remedial yang
direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif. Untuk itu guru harus menganalisis
setiap komponen pembelajaran.
11. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Setelah
diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah berikutnya
adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial. Bentuk-bentuk
pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain:
a. Pemberian pembelajaran ulang dengan
metode dan media yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara
penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan.
Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik
belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik
perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media
yang lebih tepat.
b. Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya
bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami
kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan
secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran
pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu
atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.
c. Pemberian tugas-tugas latihan secara
khusus.
Dalam
rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak
agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir.
Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai
kompetensi yang ditetapkan.
d. Pemanfaatan tutor sebaya.
Tutor
sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu
dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami
kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami
kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab.
12. Waktu Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Pembelajaran remedial dilakukan
ketika peserta didik teridentifikasi oleh guru mengalami kesulitan terhadap
penguasaan materi pada KD tertentu yang sedang berlangsung. Guru dapat (segera)
melakukan perbaikan pembelajaran (remedial) sesuai dengan kesulitan peserta
didik tersebut, tanpa mengganggu hasil tes (ulangan harian). Program
pembelajaran remedial dilaksanakan di luar jam pelajaran efektif atau ketika
proses pembelajaran berlangsung (bila memungkinkan).
Program pembelajaran remedial
dilaksanakan sampai peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diharapkan
(tujuan tercapai). Ketika peserta didik telah mencapai kompetensi minimalnya
(setelah program pembelajaran remedial dilakukan), maka pembelajaran remedial
tidak perlu dilanjutkan.
13. Perbedaan Pembelajaran Biasa dengan
Pembelajaran Remedial
Pembelajaran
remedial memiliki titik perbedaan jika dibandingkan dengan pembelajaran biasa
ditinjau dari sudut peserta, tujuan, metode, pelaksanaan, alat, pendekatan, dan
evaluasi (Sutikni, 2008: 167-168). Bagan di bawah ini menunjukkan perbedaan
tersebut.
B. Pengayaan
1. Pengertian Pembelajaran Pengayaan
Secara
umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik
yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak
semua peserta didik dapat melakukannya. Program pengayaan dapat diartikan
memberikan tambahan/perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang
teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum.
Kegiatan
pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar
mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa
waktu yang dimilikinya. Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi
pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga
tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
Pengayaan
pada kegiatan pembelajaran ditunjukkan oleh digunakannya sumber belajar, metode
pembelajaran, dan alat bantu pembelajaran yang bervariasi dibandingkan
pembelajaran biasa. Dengan pemanfaatan komponen-komponen yang disesuaikan
dengan karakteristik siswa, maka siswa dapat melakukan proses belajar secara
efektif. Sebagai contohnya siswa diminta untuk membaca sumber pustaka lain
selain buku wajib, mengakses internet, diberi tugas pemecahan masalah yang
lebih tinggi pengembangan penalarannya, melakukan penyelidikan sederhana, yang
relevan dengan materi yang dipelajari. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
guru tersebut merupakan pengayaan bagi proses pembelajaran. Program pengayaan
ini diberikan kepada kelompok siswa yang sudah mencapai batas ketuntasan
belajar.
Metode
yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang
kesulitan belajar yang dialami peserta didik.Dalam program pengayaan, media
belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat memfasilitasi peserta didik
dalam menguasai materi yang diberikan.
2. Hakikat Pembelajaran Pengayaan
Secara
umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik
yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak
semua peserta didik dapat melakukannya.
Dalam
pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya
guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik
terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran
dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai
strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif,
inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga
berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai
format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di
tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang
berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan
instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan
peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian
proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai
hambatan-hambatan.
Pada
akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan
harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar,
apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan
kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab
pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan)
minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat
pembelajaran direncanakan.
Jika
ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi
minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa
program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran
tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi
peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat
mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran
pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas,
keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan
seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan
kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar
yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam
belajarnya.
3. Tujuan Pembelajaran Pengayaan
Kegiatan
pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar
yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
4. Jenis Pembelajaran Pengayaan
Ada
tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
a. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum
yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa
peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak
tercakup dalam kurikulum.
b. Keterampilan proses yang diperlukan oleh
peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap
topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.
c. Pemecahan masalah yang diberikan kepada
peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan
masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan
investigatif/ penelitian ilmiah.
Pemecahan
masalah ditandai dengan:
1) identifikasi bidang permasalahan yang
akan dikerjakan;
2) penentuan fokus masalah/problem yang akan
dipecahkan;
3) penggunaan berbagai sumber;
4) pengumpulan data menggunakan teknik yang
relevan;
5) analisis data; dan
6) penyimpulan hasil investigasi
Sekolah
tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding
sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi
standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan
khusus.
5. Prinsip-prinsip Pembelajaran Pengayaan
Prinsip-prinsip
program pengayaan yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan
menurut Khatena (1992):
a. Inovasi
Guru
perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik,
karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.
b. Kegiatan yang memperkaya
Dalam
menyusun materi dan mendisain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan
kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan
sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.
c. Merencanakan metodologi yang luas dan
metode yang lebih bervariasi. Misalnya dengan memberikan project, pengembangan
minat dan aktivitas-akitivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi
terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan
terkini.
Sedangkan
Passow (1993) menyarankan bahwa dalam merancang program pengayaan, penting
untuk memperhatikan 3 hal:
a. Keluasan dan kedalaman dari pendekatan
yang digunakan.
Pendekatan
dan materi yang diberikan tidak hanya berisi yang yang luarnya (kulit-kulitnya)
saja tetapi diberikan dengan lebih menyeluruh dan lebih mendalam. Contoh:
membahas mengenai prinsip Phytagoras, tidak hanya memberikan rumus dan
pemecahan soal saja tetapi juga memberikan pemahaman yang luas dari mulai
sejarah terbentuknya hukum-hukum phytagoras dan bagaimana penerapan prinsip
tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
b. Tempo dan kecepatan dalam membawakan
program
Sesuaikan
cara pemberian materi dengan tempo dan kecepatan peserta didik dalam menangkap
materi yang diajarkan. Hal ini berkaitan dengan kecepatan daya tangkap yang
dimiliki peserta didik sehingga materi dapat diberikan dengan lebih mendalam
dan lebih dinamis untuk menghindari kebosanan karena peserta didik yang telah
menguasai materi pelajaran yang diberikan di kelas.
c. Memperhatikan isi dan tujuan dari materi
yang diberikan
Hal
ini bertujuan agar kurikulum yang dirancang lebih tepat guna dan responsif terhadap
kebutuhan peserta didik. Renzulli (1979) menyatakan bahwa program pengayaan
berbeda dengan program akselerasi karena pengayaan dirancang dengan lebih
memperhatikan keunikan dan kebutuhan individual dari peserta didik.
6. Langkah-langkah Pembelajaran Pengayaan
Langkah-langkah
dalam pembelajaran pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program
remedial. Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian
otentik terhadap kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam
proses pembelajaran, peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang
lebih dari teman lainnya, bisa ditandai dengan penguasaan materi yang cepat dan
membutuhkan waktu yang lebih singkat, sehingga peserta didik seringkali
memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan
tugas atau menguasai materi. Disinilah di butuhkan kepekaan guru dalam
merencanakan danmemutuskan untuk melaksanakan pembelajaran pengayaan.
Winner
(1996) dalam Santrock (2007), mengemukakan karakteristik peserta didik yang
berbakat antara lain :
a. Pesrerta didik yang berbakat biasanya
cermat dalam setiap hal atau pun kesempatan dimana mereka harus menggunakan
kemampuannya. Mereka adalah anak-anak yang selalu menjadi yang pertamadalam
menguasai suatu pelajaran dengan usaha yang juga minimal dibanadingkan
teman-teman atau peserta didik lain yang dikarenakan mereka sejak lahir
memiliki kemampuan yang tinggi dalam stu atau beberapa bidang.
b. Dalam kehidupan sehari-hari, peserta
didik yang berbakat dapat berhasil memecahkan masalah secara tepat dengan cara
ia kembangkan atau ia temukan sendiri. Peserta didik yang berbakat dapat
menangkap atau lebih menyukai petunjuk yang tidak eksplisit dibandingkan dengan
peserta didik yang lain.
c. Memiliki hasrat untuk menguasai. Mereka
memiliki hasrat, obsesi dan minat, dan kemampuan untuk fokus, sehingga sangat
mudah baginya untuk memahami dan menguasai suatu hal.
Guru
diharapkan lebih peka dalam mengenali peserta didik yang memiliki karakteristik
ini, dikarenakan mereka memiliki kebutuhan yang juga berbeda dibandingkan
dengan teman-temannya.
7. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Pemberian
pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta
didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas
belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh
langkah-langkah sistematis, yaitu (1) mengidentifikasi kelebihan kemampuan
peserta didik, dan (2) memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.
a. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar
1) Tujuan
Identifikasi
kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta
tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara
lain meliputi:
a) Belajar lebih cepat.
Peserta
didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya
penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.
b) Menyimpan informasi lebih mudah.
Peserta didik yang memiliki kemampuan
menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan
dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.
c) Keingintahuan yang tinggi.
Banyak
bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki
hasrat ingin tahu yang tinggi.
d) Berpikir mandiri.
Peserta
didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri
serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
e) Superior dalam berpikir abstrak.
Peserta
didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan
masalah.
f) Memiliki banyak minat.
Mudah
termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.
2) Teknik
Teknik
yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik
dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, dan
pengamatan (observasi).
a) Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes
yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini
dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal,
intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
b) Tes inventori. Tes inventori digunakan
untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan
belajar, dsb.
c) Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan
mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam
mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
d) Pengamatan (observasi). Pengamatan
dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik.
Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat
pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.
b. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Bentuk-bentuk
pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:
1) Belajar Kelompok. Sekelompok peserta
didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam
pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti
pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
2) Belajar mandiri. Secara mandiri peserta
didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
3) Pembelajaran berbasis tema. Memadukan
kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan
antara berbagai disiplin ilmu.
4) Pemadatan kurikulum. Pemberian
pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik.
Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh
kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas
maupun kapabilitas masing-masing.
Perlu
diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait
dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun
demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan
tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga
memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan
pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk
bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta
didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun
internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.
8. Penilaian Pembelajaran Pengayaan
Sebagai
bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas
kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu
tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk
portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik
yang normal.
syukron, artikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusSemoga bermanfaat bagi pembaca.
Hapusapa manfaat remedial bagi guru yang mengajar?
BalasHapusManfaatnya supaya guru bisa mengevaluasi lagi dalam merancang strategi pembelajarannya sehingga peserta didik bisa mncapai tujuan dari pembelajaran yang guru berikan.
HapusThank you
BalasHapusSama2,,semoga artikel ini bermanfaat ya bagi pembaca.syukron jazakallah.
HapusTerima kasih kak artikel kakak sangat membantu dalam tugas saya
BalasHapusTerima kasih kak artikel kakak sangat membantu dalam tugas saya
BalasHapus