Kegiatan Pembelajaran Efektif
TUGAS
XII
STRATEGI
PEMBELAJARAN
TENTANG
KEGIATAN
PEMBELAJARAN EFEKTIF
Disusun
Oleh:
Pesri
Delita
1820120
PGSD/4.4
Dosen
Pembimbing:
Yessi
Rifmasari, M.Pd
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) ADZKIA
PADANG
2020
A.
Hakikat Pembelajaran Efektif
Beberapa ahli pembelajaran
mengemukakan pandangannya yang hampir sama tentang pembelajaran efektif.
Misalnya Yusuf Hadi Miarso (1993) memandang bahwa pembelajaran yang efektif
adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan
terfokus pada siswa (student centered) melalui penggunaan prosedur yang tepat.
Definisi ini mengandung arti bahwa pembelajaran yang efektif terdapat dua hal
penting, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan oleh guru
untuk membelajarkan siswanya. Suatu proses belajar-mengajar dapat dikatakan
berhasil baik, jika kegiatan belajar-mengajar tersebut dapat membangkitkan
proses belajar. Penentuan atau ukuran dari pembelajaran yang efektif terletak
pada hasilnya.
B.
Indikator Pembelajaran Yang Efektif
Menurut Wotruba dan Wright (1985)
berdasarkan pengkajian dan hasil penelitian, mengidentifikasikan 7 (tujuh)
indikator yang dapat menunjukkan pembelajaran yang efektif, yaitu:
1.
Pengorganisasian Materi yang Baik
Pengorganisasian
adalah bagaimana cara mengurutkan materi yang akan disampaikan secara logis dan
teratur, sehingga dapat terlihat kaitan yang jelas antara topik satu dengan
topik lainnya selama pertemuan berlangsung. Pengorganisasian materi terdiri
dari :
a.
Perincian materi,
b.
Urutan materi dari yang mudah ke yang sukar,
c.
Kaitannya dengan tujuan.
Faktor
lain yang perlu dipertimbangkan dalam penyajian materi adalah bagaimana
kemampuan daya serap peserta didik. Daya serap tersebut bertalian erat dengan
motivasi dan kesiapan belajar mereka. Motivasi peserta didik dipengaruhi oleh
minat dan perhatian, yaitu hububgan materi pelajaran dengan harapan dan
kesiapan belajar sebelumnya.
Kesiapan
belajar individu ditentukan oleh penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari
sebelumnya, keterampilan membaca dan mendengar, tingkat pendidikan yang telah
dicapai, dan tingkat kesulitan materi. Pengorganisasian materi juga mencakup
faktor penunjang lainnya yang digunakan selama proses penyajian. Faktor
penunjang tersebut antara lain, yaitu penggunaan media, sikap, gerak-gerik
mengajar dan cepat lambat penyajian.
2.
Komunikasi yang efektif
Kecakapan
dalam penyajian materi termasuk pemakaian media dan alat bantu atau teknik lain
untuk menarik perhatian siswa, merupakan salah satu karakteristik pembelajaran
yang baik. Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran mencakup penyajian yang
jelas, kelancaran berbicara, interpretasi gagasan abstrak dengan contoh-contoh,
kemampuan wicara yang baik (nada, intonasi, ekspresi) dan kemampuan untuk mendengar.
Kemampuan berkomunikasi tidak hanya diwujudkan melalui penjelasan secara
verbal, tetapi dapat juga berupa makalah yang ditulis, rencana pembelajaran
yang jelas dan mudah dimengerti.
Kemampuan
pengajar dalam berkomunikasi selain di depan kelas, juga sangat bermanfaat
dalam seminar, diskusi kelompok bahkan dalam percakapan perorangan. Tentu saja
keterampilan yang diperlukan dalam berbagai situasi tersebut akan berbeda.
Dalam kenyataan sehari-hari, tidak semua pesan yang disampaikan dapat diterima
dengan baik oleh penerima atau receiver, hal ini disebabkan oleh gangguan di
dalam komunikasi terswbut. Gangguan terjadi karena pesan-pesan yang disampaikan
tidak begitu jelas atau tidak dideskripsikan dalam istilah yang mudah
dimengerti. Mungkin pula hal tersebut terjadi karena faktor panca indera yang
tidak dapat berfungsi dengan baik. Gangguan atau distorsi komunikasi dapat pula
terjadi karena faktor sosial, contohnya adalah bila terjadi prasangka, maka
komunikasi tidak akan berjalan dengan baik.
Jenis
komunikasi lain yang sangat penting adalah komunikasi interpersonal. Bagi
seorang guru, membangun suasana hangat dengan para siswa dan antara sesama
siswa sangatlah penting. Suasana saling menerima, saling percaya akan
meningkatkan efektivitas komunikasi.
3. Penguasaan dan Antusiasme terhadap Materi
Pelajaran
Seorang guru dituntut untuk menguasai materi
pelajaran dengan benar. Jika telah menguasai materi dapat diorganisasikan
secara sistematis dan logis. Seorang guru harus mampu menghubungkan materi yang
diajarkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki para siswanya, mampu
mengaitkan materi dengan perkembangan yang sedang terjadi sehingga proses
belajar mengajar menjadi “hidup”. Hal yang tak kalah pentingnya adalah bahwa
seorang guru harus dapat mengambil dari hasil penelitian yang relevan untuk
dikembangkan sebagai bagian dari materi pelajaran. Untuk dapat mengetahui
sejauh mana guru dapat materi dengan baik, dapat dilihat dari pemilihan
buku-buku wajib dan bacaan, penentuan topik pembahasan, pembuatan ikhtisar,
pembuatan bahan sajian dan yang paling dapat dilihat dengan jelas adalah
bagaimana guru dapat dengan tepat menjawab pertanyaan dari siswanya. Penguasaan
akan materi pelajaran saja tidak cukup, penguasaan itu harus pula diiringi
dengan kemauan dan semangat untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan
kepada para siswa.
4.
Sikap Positif terhadap Siswa
Robert
M. Mager (Suhaenah, 2000) mengekukakan tentang sikap positif terhadap siswa,
yaitu:
a.
Menerima respons siswa, baik yang benar maupun yang salah, sebagai usaha untuk
belajar.
b.
Memberi ganjaran atau penguat terhadap respons yang tepat. Setiap kesempatan
dapat digunakan untuk mendorong
siswa yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan bukan hanya kepada yang berhasil.
c.
Memberi tugas yang memberikan peluang memperoleh keberhasilan. Pemberian tugas
memang sangat penting, tetapi
guru harus membantu siswanya menempatkan tugas dalam perspektif yang seharusnya. Tugas yang diberikan
seharusnya sesuai dengan apa yang mereka pelajari, yang seharusnya guru hindarkan
adalah siswa menganggur karena tugasnya terlalu sulit atau tugas tersebut telah selesai
dikerjakan.
d.
Menyampaikan tujuan kepada siswa, sehingga sejak awal mereka sudah
memahaminya.
Hendaknya selalu dijelaskan kepada siswa tujuan dari seluruh pelajaran
atau sebagian dari itu.
e.
Mendeteksi apa yang telah diketahui siswa, sehingga siswa tidak merasa bosan.
Guru harus dapat menghubungkan
pengetahuan yang telah siswa miliki dengan materi yang akan diajarkan.
f.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif. Jika
pelajaran hanya berisi uraian
yang membosankan dan siswa dibiarkan mendengarkan secara pasif, maka dengan
cepat perhatian siswa akan
melemah. Akibatnya siswa menjadi tidak mengerti apa yang disajikan. Hal ini dapat dicegah dengan mengadakan
berbagai macam variasi.
g.
Mengendalikan perilaku siswa selama kegiatan berlangsung. Perilaku siswa yang
kurang menyenangkan
terjadi karena program pembelajaran kurang menarik perhatian sehingga menimbulkan masalah
kedisiplinan. Aturan yang harus guru pegang dalam melaksanakan disiplin adalah konsistensi.
5.
Pemberian Nilai yang Adil
Keadilan
dalam pemberian nilai tercermin dari adanya:
a.
Kesesuaian soal tes dengan materi yang diajarkan merupakan salah satu tolak
ukur keadilan.
b.
Sikap konsisten terhadap pencapaian tujuan pelajaran.
c.
Usaha yang dilakukan siswa untuk mencapai tujuan.
d.
Kejujuran siswa dalam memperoleh nilai.
e.
Pemberian umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa.
6.
Keluwesan dalam Pendekatan Pembelajaran
Menurut
Barlow pendekatan pembelajaran yang bervariasi merupakan salah satu petunjuk
adanya semangat dalam mengajar. Kegiatan pembelajaran seharusnya ditentukan
berdasarkan karakteristik siswa, karakteristik mata pelajaran dan hambatan yang
dihadapi, karena karakteristik yang berbeda, kendala yang berbeda menghendaki
pendekatan yang berbeda pula.
7.
Belajar Siswa yang Baik
Memberikan
penilaian terhadap hasil belajar siswa merupakan kewajiban guru dan mutlak
harus dilakukan. Dikatakan kewajiban bagi seorang guru harus dapat memberikan
informasi kepada lembaga atau siswa, bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan
keterampilan yang telah di capai oleh siswanya?
Menurut
W. J Kripsin dan Fledhusen ( Miarso, 1984 ) evaluasi adalah satu-satunya cara
untuk menentukan ketepatan pembelajaran dan keberhasilan. Dengan demikian
indikator pembelajaran efektif dapat diketahui dari hasil siswa yang baik.
Petunjuk keberhasilan belajar siswa dapat dilihat bahwa siswa tersebut
menguasai materi pembelajaran yang diberikan. Namun, karena kemampuan siswa
yang bervariasi menyebabkan beda semua siswa dapat menguasai materi secara
tuntas.
Carol
(1968) mengatakan bahwa apabila siswa diberi kesempatan menggunakan waktu yang
digunakan untuk belajar , dan ia menggunakan sebaik baiknya, maka ia akan
mencapai hasil yang diharapkan . Dengan demikian setiap siswa yang memiliki
kecakapan norma, apabila diberikan waktu untuk belajar, mereka akan mampu
menyelesaikan tugas - tugas belajarnya selama kondisi belajarnya memungkinkan.
Tingkat penguasaan materi dalam konsep belajar tuntas di tetapkan antara
75%-95%. Berdasarkan konsep belajar tuntas , maka pembelajaran yang efektif
adalah setiap siswa sekurang - kurangnya dapat menguasai 75% dari materi yang
diajarkan .
C.
Karakteristik Pembelajaran Efektif
Pembelajaran
dapat efektif apabila mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sesuai
dengan indikator pencapaian. Untuk mengetahui bagaimana memperoleh hasil yang
efektif dalam proses pembelajaran, maka sangat penting untuk mengetahui
ciri-cirinya. Adapun Pembelajaran yang efektif dapat diketahui dengan ciri:
a.
Belajar secara aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental ditunjukkan
dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan
secara fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran, membuat peta dan lain-lain.
b.
Metode yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian siswa dan kelas
menjadi hidup.
c.
Motivasi guru terhadap pembelajaran di kelas. Semakin tinggi motivasi seorang
guru akan mendorong siswa untuk giat dalam belajar.
d.
Suasana demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling
menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa, tenggang rasa, memberi kesempatan
kepada siswa untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.
e.
Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata.
f.
Interaksi belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari
sendiri, sehingga mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar pada
pekerjaannya dan lebih percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada
diri orang lain.
g.
Pemberian remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari
faktor penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan, jika
diperlukan.
Adapun
karakteristik guru yang efektif :
a)
Guru yang efektif adalah guru yang memiliki kemampuan berkaitan dengan iklim
kelas : Guru harus memiliki kemampuan interpersonal, khususnya kemampuan untuk
menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan, memiliki hubungan
baik dengan siswa, secara tulus menerima dan memperhatikan siswa, menunjukkan
minat dan anthusias yang tinggi dalam mengajar, mampu menciptakan atmosfer
untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok, guru melibatkan siswa dalam
mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran, mampu mendengarkan
siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi, dan
meminimalkan friksi-friksi yang terjadi di kelas .
b)
Guru efektif adalah guru harus memiliki kemampuan terkait dengan strategi
manajemen : Memiliki kemampuan secara rutin untuk menghadapi siswa yang tidak
memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan
transisi dalam mengajar, serta mampu bertanya atau memberikan tugas yang
memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda.
c)
Guru efektif adalah guru yang memiliki kemampuan terkait dengan pemberian umpan
balik dan penguatan (reinforcement) dalam pembelajaran : Mampu memberikan umpan
balik yang positif terhadap respon siswa, mampu memberikan respon yang membantu
kepada siswa yang lamban belajar, mampu memberikan tindak lanjut terhadap
jawaban yang kurang memuaskan, dan mampu memberikan bantuan kepada siswa yang
diperlukan.
d) Guru yang efektif memiliki kemampuan yang
terkait dengan peningkatan diri : Mampu menerapkan kurikulum dan metode
mengajar secara inovatif, mampu memperluas dan menambah pengetahuan
metode-metode pengajaran; dan mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru
untuk menciptakan metode pengajaran.
Contoh
penampilan guru dan efektivitasnya dalam mengajar berdasarkan faktor tersebut:
a)
Guru tetap memperlakukan siswa di kelasnya tersebut sebagai individu yang
memiliki potensi. Dan berusaha mengembangkan potensi tersebut dengan membuat
proses pembelajaran yang dilakukan semenarik mungkin sehingga siswa terkesan dan
dapat meningkatkan potensi mereka tersebut.
b) Guru tetap bersikap positif dan wajar
terhadap siswa. Sebab siswa yang dihadapi sedang mengalami masa- masa transisi
yang menyebabkan mereka mudah bosan ketika hendak mengerjakan sesuatu.
c)
Dalam proses pembelajaran perlakuan terhadap siswa hangat, rendah hati, ramah,
dan menyenangkan.
d)
Guru menjadi empati melihat siswa yang memiliki semangat yang rendah tersebut
sehingga berupaya membuat siswa merasa nyaman dalam mengikuti pelajarannya.
e)
Guru tetap memperlakukan siswa secara permissive.
f)
Guru menjadi peka terhadap perasaan yang dinyatakan siswa dan membantu
menyadari perasaannya.
Adapun karakter siswa yang efektif yaitu :
a)
Siswa menguasai konsep
b)
Siswa mampu mengaplikasikan konsep pada masalah sederhana
c)
Siswa menghasilkan produk tertentu
d)
Siswa termotivasi untuk giat belajar
D.
Prinsip-prinsip Belajar Dalam Pembelajaran Efektif
Banyak
ahli yang mengemukakan tentang prinsip belajar yang memiliki persamaan dan
perbedaan. Akan tetapi, secara umum terdapat beberapa prinsip dasar. Berikut
ini adalah prinsip dasar tersebut dan implikasinya terhadap pembelajaran
efektif:
1.
Perhatian Peranan perhatian sangat penting dimiliki siswa karena dari kajian
teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian dari
siswa tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984). Perhatian terhadap
materi pelajaran akan timbul pada siswa jika materi yang disajikan sesuai
dengan kebutuhannya.
2.
Motivasi Selain perhatian, motivasi juga memegang peranan yang sangat penting
dalam proses pembelajaran. Motivasi adalah suatu kekuatan (power) atau tenaga
(forces) atau daya (energi) atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan
dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu. Mengenai peranan
motivasi dalam proses belajar dikemukakan oleh Slavin (199) yang mengatakan
bahwa motivasi merupakan salah satu prasyarat yang paling penting dalam
belajar. Bila tidak ada motivasi dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Sebagai suatu hasil, motivasi merupakan hasil dari pembelajaran yang efektif,
jika pembelajaran efektif, menarik, bermanfaat dan sesuai dengan minat dan
kebutuhan siswa, maka akan meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran.
3.
Keaktifan Belajar hanya memungkinkan terjadi apabila siswa aktif dan
mengalaminya sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut
apa yang harus dikerjakan siswa untuk mengemukakan bahwa belajar adalah
menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri. Dengan
demikian inisiatif harus datang dari siswa itu sendiri, peran guru sekadar
sebagai pembimbing dan pengarah dan pengarah (John Dewey dalam Davies,1987).
4.
Keterlibatan langsung Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar, dalam
bentuk kerucut pengalamannya, menempatkan bahwa belajar yang paling baik adalah
melalui pengalaman langsung. Dalam belajar, siswa tidak hanya mengamati, tetapi
harus menghayati, terlibat langsung dan bertanggung jawab terhadap proses dan
hasilnya.
5.
Pengulangan Pengulangan merupakan prinsip belajar yang berpedoman pada pepatah
“latihan menjadikan sempurna” (Bell,1991). Dengan pengulangan maka daya-daya
yang ada pada individu seperti mengamati, memegang, mengingat, mengkhayal,
merasakan dan berpikir akan berkembang. Metode drill adalah bentuk belajar yang
menerapkan prinsip pengulangan (Grage dan Berliner, 1984). 6. Tantangan Teori
medan yang dikemukakan oleh Kurt Lewin mengatakan bahwa sesungguhnya seorang
siswa yang sedang belajar berada dalam suatu medan lapangan psikologis. Siswa
menghadapi tujuan yang harus dicapai, tetapi ada motif yang mengatasi hambatan
tersebut, sehingga tujuan dapat tercapai, begitu seterusnya. Agar siswa dapat
mengatasi hambatan, maka belajar harus dapat menimbulkan motivasi siswa untuk
dapat mengatasi hambatan tersebut.
7.
Penguatan Dalam pembelajaran, siswa akan lebih bersemangat apabila mengetahui
akan mendapat hasil (balikan) yang menyenangkan. Namun dorongan belajar menurut
B.F. Skinner bukan hanya yang menyenangkan, tetapi juga yang tidak menyenangkan
atau dengan kata lain penguatan positif (operant corditioning) dan negatif
(escape conditioning) dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner 1984).
8.
Perbedaan Individual Perbedaan individual berpengaruh pada cara dan hasil
belajar siswa. Dengan demikian perbedaan ini perlu diperhatikan oleh seorang
guru. Pemberian bimbingan kepada siswa harus memperhatikan kemampuan dan
karakteristik setiap siswa. Pembelajaran dengan sistem klasikal kurang
memperhatikan perbedaan individual, namun hal ini dapat diatasi dengan cara
antara lain, yaitu penggunaan metode atau strategi yang bervariasi, penggunaan
media instruksional akan membantu melayani perbedaan siswa dalam belajar.
Terimakasih artikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusTerimaksih,,semoga bermanfaat bagi pembaca.
BalasHapusApa yang haris di lakukan guru supaya proses belajar selalu efektif
BalasHapusTerima kasih kak artikel kakak sangat membantu dalam tugas saya
BalasHapus