Materi terakhir pembelajaran efektif


TUGAS 13
STRATEGI PEMBELAJARAN
TENTANG
KEGIATAN PEMBELAJARAN EFEKTIF




Disusun Oleh:
Pesri Delita
1820120
PGSD/4.4


Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M.Pd


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) ADZKIA
PADANG
2020




A. Hakikat Pembelajaran Efektif
          Beberapa ahli pembelajaran mengemukakan pandangannya yang hampir sama tentang pembelajaran efektif. Misalnya Yusuf Hadi Miarso (1993) memandang bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa (student centered) melalui penggunaan prosedur yang tepat. Definisi ini mengandung arti bahwa pembelajaran yang efektif terdapat dua hal penting, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan oleh guru untuk membelajarkan siswanya. Suatu proses belajar-mengajar dapat dikatakan berhasil baik, jika kegiatan belajar-mengajar tersebut dapat membangkitkan proses belajar. Penentuan atau ukuran dari pembelajaran yang efektif terletak pada hasilnya.
B. Indikator Pembelajaran Yang Efektif
           Menurut Wotruba dan Wright (1985) berdasarkan pengkajian dan hasil penelitian, mengidentifikasikan 7 (tujuh) indikator yang dapat menunjukkan pembelajaran yang efektif, yaitu:

1. Pengorganisasian Materi yang Baik
Pengorganisasian adalah bagaimana cara mengurutkan materi yang akan disampaikan secara logis dan teratur, sehingga dapat terlihat kaitan yang jelas antara topik satu dengan topik lainnya selama pertemuan berlangsung. Pengorganisasian materi terdiri dari :
a. Perincian materi,
b. Urutan materi dari yang mudah ke yang sukar,
c. Kaitannya dengan tujuan.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam penyajian materi adalah bagaimana kemampuan daya serap peserta didik. Daya serap tersebut bertalian erat dengan motivasi dan kesiapan belajar mereka. Motivasi peserta didik dipengaruhi oleh minat dan perhatian, yaitu hububgan materi pelajaran dengan harapan dan kesiapan belajar sebelumnya.
Kesiapan belajar individu ditentukan oleh penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya, keterampilan membaca dan mendengar, tingkat pendidikan yang telah dicapai, dan tingkat kesulitan materi. Pengorganisasian materi juga mencakup faktor penunjang lainnya yang digunakan selama proses penyajian. Faktor penunjang tersebut antara lain, yaitu penggunaan media, sikap, gerak-gerik mengajar dan cepat lambat penyajian.
2. Komunikasi yang efektif
Kecakapan dalam penyajian materi termasuk pemakaian media dan alat bantu atau teknik lain untuk menarik perhatian siswa, merupakan salah satu karakteristik pembelajaran yang baik. Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran mencakup penyajian yang jelas, kelancaran berbicara, interpretasi gagasan abstrak dengan contoh-contoh, kemampuan wicara yang baik (nada, intonasi, ekspresi) dan kemampuan untuk mendengar. Kemampuan berkomunikasi tidak hanya diwujudkan melalui penjelasan secara verbal, tetapi dapat juga berupa makalah yang ditulis, rencana pembelajaran yang jelas dan mudah dimengerti.
Kemampuan pengajar dalam berkomunikasi selain di depan kelas, juga sangat bermanfaat dalam seminar, diskusi kelompok bahkan dalam percakapan perorangan. Tentu saja keterampilan yang diperlukan dalam berbagai situasi tersebut akan berbeda. Dalam kenyataan sehari-hari, tidak semua pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima atau receiver, hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam komunikasi terswbut. Gangguan terjadi karena pesan-pesan yang disampaikan tidak begitu jelas atau tidak dideskripsikan dalam istilah yang mudah dimengerti. Mungkin pula hal tersebut terjadi karena faktor panca indera yang tidak dapat berfungsi dengan baik. Gangguan atau distorsi komunikasi dapat pula terjadi karena faktor sosial, contohnya adalah bila terjadi prasangka, maka komunikasi tidak akan berjalan dengan baik.
Jenis komunikasi lain yang sangat penting adalah komunikasi interpersonal. Bagi seorang guru, membangun suasana hangat dengan para siswa dan antara sesama siswa sangatlah penting. Suasana saling menerima, saling percaya akan meningkatkan efektivitas komunikasi.
 3. Penguasaan dan Antusiasme terhadap Materi Pelajaran
 Seorang guru dituntut untuk menguasai materi pelajaran dengan benar. Jika telah menguasai materi dapat diorganisasikan secara sistematis dan logis. Seorang guru harus mampu menghubungkan materi yang diajarkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki para siswanya, mampu mengaitkan materi dengan perkembangan yang sedang terjadi sehingga proses belajar mengajar menjadi “hidup”. Hal yang tak kalah pentingnya adalah bahwa seorang guru harus dapat mengambil dari hasil penelitian yang relevan untuk dikembangkan sebagai bagian dari materi pelajaran. Untuk dapat mengetahui sejauh mana guru dapat materi dengan baik, dapat dilihat dari pemilihan buku-buku wajib dan bacaan, penentuan topik pembahasan, pembuatan ikhtisar, pembuatan bahan sajian dan yang paling dapat dilihat dengan jelas adalah bagaimana guru dapat dengan tepat menjawab pertanyaan dari siswanya. Penguasaan akan materi pelajaran saja tidak cukup, penguasaan itu harus pula diiringi dengan kemauan dan semangat untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para siswa.
4. Sikap Positif terhadap Siswa
Robert M. Mager (Suhaenah, 2000) mengekukakan tentang sikap positif terhadap siswa, yaitu:
a. Menerima respons siswa, baik yang benar maupun yang salah, sebagai usaha untuk belajar.
b. Memberi ganjaran atau penguat terhadap respons yang tepat. Setiap kesempatan dapat digunakan        untuk mendorong siswa yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan bukan hanya kepada          yang berhasil.
c. Memberi tugas yang memberikan peluang memperoleh keberhasilan. Pemberian tugas memang          sangat penting, tetapi guru harus membantu siswanya menempatkan tugas dalam perspektif yang        seharusnya. Tugas yang diberikan seharusnya sesuai dengan apa yang mereka pelajari, yang                seharusnya guru hindarkan adalah siswa menganggur karena tugasnya terlalu sulit atau tugas              tersebut telah selesai dikerjakan.
d. Menyampaikan tujuan kepada siswa, sehingga sejak awal mereka sudah memahaminya.                      Hendaknya selalu dijelaskan kepada siswa tujuan dari seluruh pelajaran atau sebagian dari itu.
e. Mendeteksi apa yang telah diketahui siswa, sehingga siswa tidak merasa bosan. Guru harus dapat        menghubungkan pengetahuan yang telah siswa miliki dengan materi yang akan diajarkan.
f. Memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif. Jika pelajaran hanya berisi            uraian yang membosankan dan siswa dibiarkan mendengarkan secara pasif, maka dengan cepat          perhatian siswa akan melemah. Akibatnya siswa menjadi tidak mengerti apa yang disajikan. Hal          ini dapat dicegah dengan mengadakan berbagai macam variasi.
g. Mengendalikan perilaku siswa selama kegiatan berlangsung. Perilaku siswa yang kurang                      menyenangkan terjadi karena program pembelajaran kurang menarik perhatian sehingga                      menimbulkan masalah kedisiplinan. Aturan yang harus guru pegang dalam melaksanakan disiplin      adalah konsistensi.
5. Pemberian Nilai yang Adil
Keadilan dalam pemberian nilai tercermin dari adanya:
a. Kesesuaian soal tes dengan materi yang diajarkan merupakan salah satu tolak ukur keadilan.
b. Sikap konsisten terhadap pencapaian tujuan pelajaran.
c. Usaha yang dilakukan siswa untuk mencapai tujuan.
d. Kejujuran siswa dalam memperoleh nilai.
e. Pemberian umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa.
6. Keluwesan dalam Pendekatan Pembelajaran
Menurut Barlow pendekatan pembelajaran yang bervariasi merupakan salah satu petunjuk adanya semangat dalam mengajar. Kegiatan pembelajaran seharusnya ditentukan berdasarkan karakteristik siswa, karakteristik mata pelajaran dan hambatan yang dihadapi, karena karakteristik yang berbeda, kendala yang berbeda menghendaki pendekatan yang berbeda pula.
7. Belajar Siswa yang Baik
Memberikan penilaian terhadap hasil belajar siswa merupakan kewajiban guru dan mutlak harus dilakukan. Dikatakan kewajiban bagi seorang guru harus dapat memberikan informasi kepada lembaga atau siswa, bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan keterampilan yang telah di capai oleh siswanya?
Menurut W. J Kripsin dan Fledhusen ( Miarso, 1984 ) evaluasi adalah satu-satunya cara untuk menentukan ketepatan pembelajaran dan keberhasilan. Dengan demikian indikator pembelajaran efektif dapat diketahui dari hasil siswa yang baik. Petunjuk keberhasilan belajar siswa dapat dilihat bahwa siswa tersebut menguasai materi pembelajaran yang diberikan. Namun, karena kemampuan siswa yang bervariasi menyebabkan beda semua siswa dapat menguasai materi secara tuntas.
Carol (1968) mengatakan bahwa apabila siswa diberi kesempatan menggunakan waktu yang digunakan untuk belajar , dan ia menggunakan sebaik baiknya, maka ia akan mencapai hasil yang diharapkan . Dengan demikian setiap siswa yang memiliki kecakapan norma, apabila diberikan waktu untuk belajar, mereka akan mampu menyelesaikan tugas - tugas belajarnya selama kondisi belajarnya memungkinkan. Tingkat penguasaan materi dalam konsep belajar tuntas di tetapkan antara 75%-95%. Berdasarkan konsep belajar tuntas , maka pembelajaran yang efektif adalah setiap siswa sekurang - kurangnya dapat menguasai 75% dari materi yang diajarkan .
C. Karakteristik Pembelajaran Efektif
Pembelajaran dapat efektif apabila mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan indikator pencapaian. Untuk mengetahui bagaimana memperoleh hasil yang efektif dalam proses pembelajaran, maka sangat penting untuk mengetahui ciri-cirinya. Adapun Pembelajaran yang efektif dapat diketahui dengan ciri:
a. Belajar secara aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental ditunjukkan dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan secara fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran, membuat peta dan lain-lain.
b. Metode yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian siswa dan kelas menjadi hidup.
c. Motivasi guru terhadap pembelajaran di kelas. Semakin tinggi motivasi seorang guru akan mendorong siswa untuk giat dalam belajar.
d. Suasana demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa, tenggang rasa, memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.
e. Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata.
f. Interaksi belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari sendiri, sehingga mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya dan lebih percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada diri orang lain.
g. Pemberian remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari faktor penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan, jika diperlukan.
Adapun karakteristik guru yang efektif :
a) Guru yang efektif adalah guru yang memiliki kemampuan berkaitan dengan iklim kelas : Guru harus memiliki kemampuan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan, memiliki hubungan baik dengan siswa, secara tulus menerima dan memperhatikan siswa, menunjukkan minat dan anthusias yang tinggi dalam mengajar, mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok, guru melibatkan siswa dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran, mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi, dan meminimalkan friksi-friksi yang terjadi di kelas .
b) Guru efektif adalah guru harus memiliki kemampuan terkait dengan strategi manajemen : Memiliki kemampuan secara rutin untuk menghadapi siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi dalam mengajar, serta mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda.
c) Guru efektif adalah guru yang memiliki kemampuan terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement) dalam pembelajaran : Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa, mampu memberikan respon yang membantu kepada siswa yang lamban belajar, mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan, dan mampu memberikan bantuan kepada siswa yang diperlukan.
 d) Guru yang efektif memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri : Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif, mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran; dan mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran.
Contoh penampilan guru dan efektivitasnya dalam mengajar berdasarkan faktor tersebut:
a) Guru tetap memperlakukan siswa di kelasnya tersebut sebagai individu yang memiliki potensi. Dan berusaha mengembangkan potensi tersebut dengan membuat proses pembelajaran yang dilakukan semenarik mungkin sehingga siswa terkesan dan dapat meningkatkan potensi mereka tersebut.
 b) Guru tetap bersikap positif dan wajar terhadap siswa. Sebab siswa yang dihadapi sedang mengalami masa- masa transisi yang menyebabkan mereka mudah bosan ketika hendak mengerjakan sesuatu.
c) Dalam proses pembelajaran perlakuan terhadap siswa hangat, rendah hati, ramah, dan menyenangkan.
d) Guru menjadi empati melihat siswa yang memiliki semangat yang rendah tersebut sehingga berupaya membuat siswa merasa nyaman dalam mengikuti pelajarannya.
e) Guru tetap memperlakukan siswa secara permissive.
f) Guru menjadi peka terhadap perasaan yang dinyatakan siswa dan membantu menyadari perasaannya.

 Adapun karakter siswa yang efektif yaitu :
a) Siswa menguasai konsep
b) Siswa mampu mengaplikasikan konsep pada masalah sederhana
c) Siswa menghasilkan produk tertentu
d) Siswa termotivasi untuk giat belajar
D. Prinsip-prinsip Belajar Dalam Pembelajaran Efektif
Banyak ahli yang mengemukakan tentang prinsip belajar yang memiliki persamaan dan perbedaan. Akan tetapi, secara umum terdapat beberapa prinsip dasar. Berikut ini adalah prinsip dasar tersebut dan implikasinya terhadap pembelajaran efektif:
1. Perhatian Peranan perhatian sangat penting dimiliki siswa karena dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian dari siswa tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984). Perhatian terhadap materi pelajaran akan timbul pada siswa jika materi yang disajikan sesuai dengan kebutuhannya.
2. Motivasi Selain perhatian, motivasi juga memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Motivasi adalah suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energi) atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu. Mengenai peranan motivasi dalam proses belajar dikemukakan oleh Slavin (199) yang mengatakan bahwa motivasi merupakan salah satu prasyarat yang paling penting dalam belajar. Bila tidak ada motivasi dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Sebagai suatu hasil, motivasi merupakan hasil dari pembelajaran yang efektif, jika pembelajaran efektif, menarik, bermanfaat dan sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, maka akan meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
3. Keaktifan Belajar hanya memungkinkan terjadi apabila siswa aktif dan mengalaminya sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri. Dengan demikian inisiatif harus datang dari siswa itu sendiri, peran guru sekadar sebagai pembimbing dan pengarah dan pengarah (John Dewey dalam Davies,1987).
4. Keterlibatan langsung Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar, dalam bentuk kerucut pengalamannya, menempatkan bahwa belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman langsung. Dalam belajar, siswa tidak hanya mengamati, tetapi harus menghayati, terlibat langsung dan bertanggung jawab terhadap proses dan hasilnya.
5. Pengulangan Pengulangan merupakan prinsip belajar yang berpedoman pada pepatah “latihan menjadikan sempurna” (Bell,1991). Dengan pengulangan maka daya-daya yang ada pada individu seperti mengamati, memegang, mengingat, mengkhayal, merasakan dan berpikir akan berkembang. Metode drill adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Grage dan Berliner, 1984). 6. Tantangan Teori medan yang dikemukakan oleh Kurt Lewin mengatakan bahwa sesungguhnya seorang siswa yang sedang belajar berada dalam suatu medan lapangan psikologis. Siswa menghadapi tujuan yang harus dicapai, tetapi ada motif yang mengatasi hambatan tersebut, sehingga tujuan dapat tercapai, begitu seterusnya. Agar siswa dapat mengatasi hambatan, maka belajar harus dapat menimbulkan motivasi siswa untuk dapat mengatasi hambatan tersebut.
7. Penguatan Dalam pembelajaran, siswa akan lebih bersemangat apabila mengetahui akan mendapat hasil (balikan) yang menyenangkan. Namun dorongan belajar menurut B.F. Skinner bukan hanya yang menyenangkan, tetapi juga yang tidak menyenangkan atau dengan kata lain penguatan positif (operant corditioning) dan negatif (escape conditioning) dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner 1984).
8. Perbedaan Individual Perbedaan individual berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Dengan demikian perbedaan ini perlu diperhatikan oleh seorang guru. Pemberian bimbingan kepada siswa harus memperhatikan kemampuan dan karakteristik setiap siswa. Pembelajaran dengan sistem klasikal kurang memperhatikan perbedaan individual, namun hal ini dapat diatasi dengan cara antara lain, yaitu penggunaan metode atau strategi yang bervariasi, penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan siswa dalam belajar.

Komentar

  1. Apa yang harus di lakukan guru dalam menghadapi karakter siswa yang tidak efektif

    BalasHapus
  2. kita sebagai guru hendak nya harus lebih kreatif dan bisa dekat dengan siswa kita supaya kita mengetahui karakternya bagaimana dan sebab dia kurang efektif ketika belajar.

    BalasHapus

Posting Komentar